Jumat, 18 April 2014

Syurga Berbau Neraka

Dingin menyengat didampingi batu yang menanjak
Malam tiba di suatu dataran
Dataran tak biasa yang menjadi awal petualangan
Tidak asing untuk di kunjungi...

Kita tertidur di atas kayu-kayu yang tersusun
Beratap plastik tebal beralas kayu gelombang
Dingin menyerang lantara serigala menerkam
Hawa berbeda di tempat yang luar biasa
Kita, para petualang alam...

Ayam mendengkur dengan derasnya air
Air yang jarang dilihat dan dirasakan
Getaran dingin yang menyerang tubuh
laksana apa membakar kertas kosong...

Tak lupa menaungkan takbir di antara terbitnya matahari
Mensyukuri kuasa yang diberikan Illahi
Tuhan, terima kasih untuk awal Syurga ini
Apakah kami akan terkejut lagi?

Matahari masih mengumpat, tapi kita nekat
Menanjak setiap batu dan tanah berair
Daun-daun melambai, pohon-pohon menjulau
Air deras mengalir laksana pedang menebas musuh

Medan yang biasa
Tanah yang membosankan
Batu yang besar
dan Lumpur yang menjebak perjalanan

Rumput-rumput yang menghalang bagai laksana benteng kerajaan
Pohon-pohon yang tumbang bagaikan pahlawan di medan perang
Air-air yang mengalir bagaikan tetesan darah para pejuang
serta Daun-daun yang berjatuhan ibaratkan berakhirnya peperangan

Ini peperangan keindahan
Bukan peperangan ketidaksamaan

Kita dilahirkan untuk menjaga
Bukan untuk menunda

Dan sampai akhirnya......

Kita tahu bahwa alam Illahi itu indah!
bagai Syurga berbau Neraka
Panas Neraka, Pemandangan Syurga
Itulah, Kawan Gunung Indonesia

Syukur atas kuasa yang diberi
Tak lupa kita menikmati
Menikmati derasnya air
Menikmati perbedaan air

itulah alam Negeri Indonesia

Tuhan, berikan keindahanmu disisa umur kami, agar kami tahu dan selalu bersyukur atas nikmat yang engkau beri

Terima kasih untuk alammu, Tuhan.

18 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar