Kala Sore itu, suatu hembusan datang melewati perantaraan telinga.
dia berkata.
Hei Lelaki Bodoh, Dia cantik rupawa, dia anggun mempesona, dan dia putri di suatu kerajaan.
Tak tertarikkah kau kepadanya, Lelaki Bodoh?
Sore itu, kesadaran kembali.
Sudah berapa lama kah aku terdiam seperti ini?
Sepertinya seminggu.
Tempatku berpijak, mencorong kedalam sedikit.
Kaki-kaki yang biasa kuat, lemas tak berdaya.
Sepertinya aku harus duduk.......
Suara itu kembali datang.. tetapi, ini nyata.
Hei Lelaki, tahukah kau jika dia menyadari kau memandanginya dari pagi?
Ini sudah sore.
Lantas, mau kemana tujuanmu kali ini?
Masih banyak sekawanan wanita asing nan cantik di sekitarmu.
Kau tidak melihat betapa malunya teman sepermainanku ini?
Oh, ternyata baru sehari ini aku berdiri.
Terdiam dan tak tahu apa yang dipandang.
Pantas bola mataku memereh tak karuan.
Bekerja hanya memandang saja seharian ini.
Dan, dan...
Apa yang kupandang?
Wanita itu kah?
Hanya saja, kenapa temannya saja yang bergerutu.
Aku yang memandangpun biasa saja.
Tak menggunakan reaksi.
Tuduh saja mataku jika tak percaya.
Senin, 16 Juni 2014
Minggu, 01 Juni 2014
Hanya Memandang dari kejauhan
Keindahan terpancar dari kejauhan.
Sesosok makhluk hidup yang resah akan kepastian.
Berdiri disebrang, hanya melihat pamandangan.
Pemandangan yang biasa, tapi tidak untuk satu titik.
Yaitu, Hati.
Banyak yang bilang kau cantik.
Banyak yang bilang kau baik.
Banyak yang bilang kau manis.
Dan, Banyak juga yang bilang kau idealis.
Pesona ini tak tergoyahkan.
Saat kau berdansa dengan gauh biru dan rok coklat itu.
Seakan dunia hanya milikmu.
Kau berdansa, seakan tak ada yang menghiraukan gerakanmu.
Tapi, ada yang beda untuk di siang ini.
Kamu putri untuk siang ini.
Retina ini tak bosan untuk memandang,
Hari cerah dengan gaun yang engkau pakai.
Bertingkah banyak, seakan tak ada yang melihat.
Kamu, melebihi biasanya.
Awan di siang haripun kalah oleh raut mukamu detik ini.
Hembusan angin kencang seperti tidak berperan.
Sekawan manusia yang datang, tak terfikirkan.
Seakan, semua tertembus dan tertuju pada satu tujuan.
Siang itu, aku terkagum dengan keputrianmu.
Sesosok makhluk hidup yang resah akan kepastian.
Berdiri disebrang, hanya melihat pamandangan.
Pemandangan yang biasa, tapi tidak untuk satu titik.
Yaitu, Hati.
Banyak yang bilang kau cantik.
Banyak yang bilang kau baik.
Banyak yang bilang kau manis.
Dan, Banyak juga yang bilang kau idealis.
Pesona ini tak tergoyahkan.
Saat kau berdansa dengan gauh biru dan rok coklat itu.
Seakan dunia hanya milikmu.
Kau berdansa, seakan tak ada yang menghiraukan gerakanmu.
Tapi, ada yang beda untuk di siang ini.
Kamu putri untuk siang ini.
Retina ini tak bosan untuk memandang,
Hari cerah dengan gaun yang engkau pakai.
Bertingkah banyak, seakan tak ada yang melihat.
Kamu, melebihi biasanya.
Awan di siang haripun kalah oleh raut mukamu detik ini.
Hembusan angin kencang seperti tidak berperan.
Sekawan manusia yang datang, tak terfikirkan.
Seakan, semua tertembus dan tertuju pada satu tujuan.
Siang itu, aku terkagum dengan keputrianmu.
Selasa, 27 Mei 2014
Manisnya, Orange Hitam itu
Luar biasa, hanya bisa yang
terucap.
Terdiamku saat menatap.
Kenapa warna itu begitu indah
denganmu?
Atau hanya diriku yang menilai
seperti itu?
Somoga hanya diriku.
Kamu tidak asing dimataku.
Senyummu mudah dilihat.
Aliran mata indahmu bisa menjadi
hobbyku.
Raungan pesonamu tidak dapat
dilihat hanya sekejap.
Mungkin ini renungan disiang yang
panas ini.
Janganlah pergi aura indahmu itu.
Menenangkan.
20
Mei 2014 – 13:41
Senin, 28 April 2014
Kamu dengan Gaun Hijau itu
Siang itu, tidak bisa
tergambarkan mata.
Semua yang ada, hanya kilau
semata.
Sengatan tajam, menyamarkan warna
badan.
Hitam menjadi putih, dan putih
mengkilap bersih.
Sesosok wanita berjalan di jalur
itu.
Wah, hijau itu indah.
Diriku menyadari detik itu.
Bahwa, kamu indah.
Kamu? Kami baru mengenal.
Dekatpun terbilang kebetulan.
Karena memang kita sejalur dalam
badan.
Kagum untuk waktu itu.
Wanita berjalan dengan gaun
hijaunya.
Ah, mungkin ini hanya akan
bertahan beberapa waktu.
Besokpun pesona akan berubah.
Kita lihat saja itu.
Apakah kita memenangkan rasa ini
secara bersama?
Jadikan ini sebuah kebetulan.
Agar tidak adanya penyesalan di
kedepan.
-
27/04/2014 ~
20.40 -
Jumat, 18 April 2014
Cahaya yang Menghilang
Sore hari, setelah turunnya hujan dengan deras disertai keringat yang bercucuran karena bola, gua galau..
galau? hellow! udah gak jaman kali.
Bukannya gak jaman, niatnya pengen belajar, eh malah mati lampu.
Otomatis semuanya jadi serba bingung..
Terkadang sesuatu yang tidak terlihat itu akan membingungkan.
Wajar aja, kita mau melakukan sesuatu, pasti bingung jika tak ada cahaya.
Mau makan aja bingung jika kita tidak bisa melihat.
Pacarpun jika mati lampu bisa ketuker tangannya karena gelap.
Dan mungkin, tangannya bisa berganti ke tangan yang lain.
Kan malah jadi... yaaa... gitu...
Maka dari itu, kita harus mensyukuri nikmat yang ada.
Jika ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, gunakan sebaik-baiknya.
Jika kita membutuhkan orang lain, maka carilah sesuai dengan yang kita butuhkan.
Dan jika ada yang membutuhkan kita, manfaatkan lah kesempatan itu, agar kita mempunyai pandang dimatanya.
- 18 April 2014 -
19.39
Waktu dimana lampu itu menyala (1 Jam yang lalu)
galau? hellow! udah gak jaman kali.
Bukannya gak jaman, niatnya pengen belajar, eh malah mati lampu.
Otomatis semuanya jadi serba bingung..
Terkadang sesuatu yang tidak terlihat itu akan membingungkan.
Wajar aja, kita mau melakukan sesuatu, pasti bingung jika tak ada cahaya.
Mau makan aja bingung jika kita tidak bisa melihat.
Pacarpun jika mati lampu bisa ketuker tangannya karena gelap.
Dan mungkin, tangannya bisa berganti ke tangan yang lain.
Kan malah jadi... yaaa... gitu...
Maka dari itu, kita harus mensyukuri nikmat yang ada.
Jika ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan, gunakan sebaik-baiknya.
Jika kita membutuhkan orang lain, maka carilah sesuai dengan yang kita butuhkan.
Dan jika ada yang membutuhkan kita, manfaatkan lah kesempatan itu, agar kita mempunyai pandang dimatanya.
- 18 April 2014 -
19.39
Waktu dimana lampu itu menyala (1 Jam yang lalu)
Pernah Gak Sih.........
Pernah gak sih kalian mengalami hal yang membuat kalian sadar, 'apa arti dari hidup ini? Hidup ini untuk apa?'
Paling kebanyakan akan menjawab 'ah, sudahlah, jalani saja hidup ini. Toh, nanti juga akan ada jalan keluarnya'.
Ya kalau dibilang, pernyataan itu emang benar, gak salah juga.
Gua juga sering bilang kaya gitu ke temen.
Dari hal yang sepele, sampai hal masa depan.
Toh, nanti juga akan ada jalan keluarnya' pernyataan yang selalu keluar untuk semua pertanyaan.
'Apa sih yang harus disusahkan dari hidup ini?'
Pertanyaan yang selalu berputar menggentayangi otak kita.
Ya kalau untuk hidup yang 'gitu-gitu aja', ya cuek aja.
Apa sih pentingnya?
Nah, ini yang harus dipertanyakan.
Mungkin orang yang seperti ini yang mempunyai masa depannya dengan mengikuti takdir.
Pasti kurang pengalaman hidupnya.
Sebagai contoh, saat belajar. Gak ada kegagalan, suksespun tak ada.
Ya, jarang berusaha, susah meraih cita-cita.
Fokuskan diri untuk suatu masa depan yang cerah.
jangan menjadi seseorang yang hanya itu-itu aja.
kita harus bergerak kedepan!
menggapai semua angan!
kita muda, bisa dan bijaksana!
semangat untuk jiwa yang akan merubah dunia!
Paling kebanyakan akan menjawab 'ah, sudahlah, jalani saja hidup ini. Toh, nanti juga akan ada jalan keluarnya'.
Ya kalau dibilang, pernyataan itu emang benar, gak salah juga.
Gua juga sering bilang kaya gitu ke temen.
Dari hal yang sepele, sampai hal masa depan.
Toh, nanti juga akan ada jalan keluarnya' pernyataan yang selalu keluar untuk semua pertanyaan.
'Apa sih yang harus disusahkan dari hidup ini?'
Pertanyaan yang selalu berputar menggentayangi otak kita.
Ya kalau untuk hidup yang 'gitu-gitu aja', ya cuek aja.
Apa sih pentingnya?
Nah, ini yang harus dipertanyakan.
Mungkin orang yang seperti ini yang mempunyai masa depannya dengan mengikuti takdir.
Pasti kurang pengalaman hidupnya.
Sebagai contoh, saat belajar. Gak ada kegagalan, suksespun tak ada.
Ya, jarang berusaha, susah meraih cita-cita.
Fokuskan diri untuk suatu masa depan yang cerah.
jangan menjadi seseorang yang hanya itu-itu aja.
kita harus bergerak kedepan!
menggapai semua angan!
kita muda, bisa dan bijaksana!
semangat untuk jiwa yang akan merubah dunia!
Syurga Berbau Neraka
Dingin menyengat didampingi batu yang menanjak
Malam tiba di suatu dataran
Dataran tak biasa yang menjadi awal petualangan
Tidak asing untuk di kunjungi...
Kita tertidur di atas kayu-kayu yang tersusun
Beratap plastik tebal beralas kayu gelombang
Dingin menyerang lantara serigala menerkam
Hawa berbeda di tempat yang luar biasa
Kita, para petualang alam...
Ayam mendengkur dengan derasnya air
Air yang jarang dilihat dan dirasakan
Getaran dingin yang menyerang tubuh
laksana apa membakar kertas kosong...
Tak lupa menaungkan takbir di antara terbitnya matahari
Mensyukuri kuasa yang diberikan Illahi
Tuhan, terima kasih untuk awal Syurga ini
Apakah kami akan terkejut lagi?
Matahari masih mengumpat, tapi kita nekat
Menanjak setiap batu dan tanah berair
Daun-daun melambai, pohon-pohon menjulau
Air deras mengalir laksana pedang menebas musuh
Medan yang biasa
Tanah yang membosankan
Batu yang besar
dan Lumpur yang menjebak perjalanan
Rumput-rumput yang menghalang bagai laksana benteng kerajaan
Pohon-pohon yang tumbang bagaikan pahlawan di medan perang
Air-air yang mengalir bagaikan tetesan darah para pejuang
serta Daun-daun yang berjatuhan ibaratkan berakhirnya peperangan
Ini peperangan keindahan
Bukan peperangan ketidaksamaan
Kita dilahirkan untuk menjaga
Bukan untuk menunda
Dan sampai akhirnya......
Kita tahu bahwa alam Illahi itu indah!
bagai Syurga berbau Neraka
Panas Neraka, Pemandangan Syurga
Itulah, Kawan Gunung Indonesia
Syukur atas kuasa yang diberi
Tak lupa kita menikmati
Menikmati derasnya air
Menikmati perbedaan air
itulah alam Negeri Indonesia
Tuhan, berikan keindahanmu disisa umur kami, agar kami tahu dan selalu bersyukur atas nikmat yang engkau beri
Terima kasih untuk alammu, Tuhan.
18 April 2014
Malam tiba di suatu dataran
Dataran tak biasa yang menjadi awal petualangan
Tidak asing untuk di kunjungi...
Kita tertidur di atas kayu-kayu yang tersusun
Beratap plastik tebal beralas kayu gelombang
Dingin menyerang lantara serigala menerkam
Hawa berbeda di tempat yang luar biasa
Kita, para petualang alam...
Ayam mendengkur dengan derasnya air
Air yang jarang dilihat dan dirasakan
Getaran dingin yang menyerang tubuh
laksana apa membakar kertas kosong...
Tak lupa menaungkan takbir di antara terbitnya matahari
Mensyukuri kuasa yang diberikan Illahi
Tuhan, terima kasih untuk awal Syurga ini
Apakah kami akan terkejut lagi?
Matahari masih mengumpat, tapi kita nekat
Menanjak setiap batu dan tanah berair
Daun-daun melambai, pohon-pohon menjulau
Air deras mengalir laksana pedang menebas musuh
Medan yang biasa
Tanah yang membosankan
Batu yang besar
dan Lumpur yang menjebak perjalanan
Rumput-rumput yang menghalang bagai laksana benteng kerajaan
Pohon-pohon yang tumbang bagaikan pahlawan di medan perang
Air-air yang mengalir bagaikan tetesan darah para pejuang
serta Daun-daun yang berjatuhan ibaratkan berakhirnya peperangan
Ini peperangan keindahan
Bukan peperangan ketidaksamaan
Kita dilahirkan untuk menjaga
Bukan untuk menunda
Dan sampai akhirnya......
Kita tahu bahwa alam Illahi itu indah!
bagai Syurga berbau Neraka
Panas Neraka, Pemandangan Syurga
Itulah, Kawan Gunung Indonesia
Syukur atas kuasa yang diberi
Tak lupa kita menikmati
Menikmati derasnya air
Menikmati perbedaan air
itulah alam Negeri Indonesia
Tuhan, berikan keindahanmu disisa umur kami, agar kami tahu dan selalu bersyukur atas nikmat yang engkau beri
Terima kasih untuk alammu, Tuhan.
18 April 2014
Langganan:
Postingan (Atom)